Mengenal "Silondongan" dan 3 Fungsi Ayam jantan Dikalangan Masyarakat Toraja

Iklan

Mengenal "Silondongan" dan 3 Fungsi Ayam jantan Dikalangan Masyarakat Toraja

Admin
Rabu, 16 Desember 2020, Desember 16, 2020 WIB Last Updated 2020-12-20T02:36:32Z

Mengenal "Silondongan" dan 3 Fungsi Ayam jantan Dalam Kalangan Masyarakat Toraja

Sembangan Suke Baratu dan Sejarahnya

Zonatc.site--Sabung ayam dalam masyarakat Toraja konon bermula di langit. Di langit di kalangan para penghuni langit dikenal peradilan yang disebut "Tarian Pitu", artinya 7 macam cara mengadili orang-orang yang bersalah.Kemudian adat ini turun ke bumi di bawa oleh manusia, lalu di lembagakan. 


Pada peradilan "Silondongan" pihak-pihak yang berselisih menyediakan ayam jantan yg akan mewakili mereka dalam perkelahian.


Maka "Silondongan" berarti perkelahian antar 2 ekor ayam jantan yg pada kakinya di pasang taji. Seterusnya ayam siapa yg menang maka itulah yg memenangkan perkara dan pihak yg kalah harus menerima kekalahan itu dengan "jantan". 


Baca Juga : Perayaan Natal di Torut, Jemaat Dibatasi Hingga 50%, Dilarang Mendirikan Tenda


Darisitulah maka ayam jantan juga dipakai sebagai lambang hukum dan peradilan di Toraja.


Dalam kalangan masyarakat Toraja dikenal tiga peranan dan fungsi ayam jantan, yaitu :

1. Sebagai penegak keadilan melalui silondongan.

2. Kokok ayam jantan pd waktu malam dijadikan penentu waktu bagi manusia (manarang ussuka' bongi).

 3. Sebagai lambang patriotik seorang pemimpin/pahlawan yg berjuang dengan jujur dan berani.


Silondongan diyakini oleh orang Toraja sebagai permainan yg jujur, adil dan patriotik. Dalam perkembangan sejarah masyarakat Toraja selanjutnya, maka "Silondongan" dikaitkan dengan perang pahlawan-pahlawan Toraja yg terkenal dengan gelar: "To Pada Tindo To Misa' Pangimpi" mereka yg bersatu melawan orang Bone dibawah pemerintahan Arung Palakka' waktu itu (Abad 16).


Waktu semakin berjalan "Silondongan" mulailah dipikirkan untuk dipakai sebagai sarana pengumpulan dana, bantuan untuk membantu membiayai pemakaman dan upah bagi petugas upacara (To untoe Aluk) pada upacara pemakaman. Jadi uang taruhan itu dikumpulkan dengan dimasukkan kedalam sepotong bambu yg di potong memancung (disembang), maka mulailah waktu itu "Silondongan" disebut "Sembangan Suke Baratu" (Suke = Sepotong Bambu,  Baratu = dana).  


Waktu semakin brlalu entah karena lupa, entah karena dilupakan atau karena orang tidak lagi mau disumbang karena merasa sudah mampu, maka hasil taruhan itu diambil oleh pemilik ayam yg menang. Mulai saat itu "Silondongan" menjadi judi. 


Jika ingin melakukan "Sembangan Suke Baratu" atau "Silondongan" maka harus meminta izin kepada Pemerintah, maka itu disebut "Paramisi dari kata Permisi".


Sumber : Dra. Seno Paseru M.Si (Aluk Todolo Toraja)

Komentar

Tampilkan

Terkini

NamaLabel

+